Sabtu, 29 Juni 2013


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sastrawan Kontemporer
            Menurut Depdiknas (2008:1230) Sastrawan adalah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa dan fiksi, pandai-pandai, cerdik cendikia. Menurut Depdiknas (2008: 729) Kontemporer adalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa ini. Jadi sastrawan kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu.
            Sastrawan kontemporer tidak hanya berhenti dalam produktivitas, tetapi lebih-lebih dalam pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru. Sastra kontemporer dalam karyanya melahirkan eksperimen berupa penjungkirbalikan kata, penciptakan kata-kata baru, penciptaan idiom-idiom baru dan sebagainya. Purba(2010:15) “Misalnya Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada eksistensi bunyi dan kekuatannya”. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji benar-benar memberi wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia.
            Sastrawan kontemporer melakukan suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal ini ditandai  dalam karyanya banyak yang mengambil ide atau gagasan dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sastrawan kontremporer memiliki peranan dan fungsi yang penting dalam perkembangan sastra di Indonesia muktahir ini. Keberadaan sastrawan kontemporer memberi warna yang berbeda dalam perpuisian, cerpen dan novel di Indonesia. Karya sastra kontemporer menjadi suatu awal pembaharuan cara berekspresi para penyair dan pengarang kontemporer.
2.2  Nama-nama dan Identitas Sastrawan Kontemporer
1.      I Dewa Putu Wijaya
Putu Wijaya lahir pada tangggal 11 April 1944 di Tabanan (Bali) dan bekerja sebagai wartawan.  Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri.Contoh karya-karyanya yang banyak diperbincangkan yaitu Telegram, Pabrik, Stasiun, Keok, Sobat, Tak cukup sedih, Ratu, Edan, Bila Malam Bertambah Malam, Aduh, Perang, Ms Novelet, dan nyali.
2.      Iwan Simatupang
Iwan Simatupang lahir pada tanggal 18 Januari 1928 di Sibolga (Sumatra Utara). Beliau menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, tidak satu pun yang tamat, dengan  bidang ilmu kedokteran (Surabaya), belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Beliau pernah menjadi Guru, wartawan dan pengarang, yang hasil karyanya kebanyakan merupakan karya sastra absurd, irrasional dan filosofis. Beliau telah  mengarang semua genre sastra: Cerpen, Novel, Puisi, Drama, Esei dan kritik sastra. Beliau wafat pada tanggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu Merahnya Merah (1977), Kering (1972), Ziarah (1976), Koong, kisah tentang seekorperkutut (1975), Tunggu Aku dipojok Jalan Itu, Jang Tak Terpadamkan (Cerpen 1965), Perang di Taman (Drama 1966), Tegak Lurus dengan Langit (Antologi Cerpen 1982) dan Monolog Simpang Jalan.
3.      Linus Suryadi A.G
Linus Suryadi dalam puisi-puisinya dimuat idiom jawa. Ia juga mampu menciptakan kuatrin yang pekat. Di samping itu terdapat unsur budaya jawa, bahasa yang prosais, tidak dikenalnya kata atau istilah tabu. Contoh karyanya yaitu Pengakuan pariyem (Novel 1988), Syair-syai dari Yogya (Sajak 1978), Langit Kelabu (Sajak 1976), dan maria dari magdala.
4.      Korrie Rayun Rampan
Lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda. Beliau merupakan seorang sarjana yang bekerja sebagai wartawan. Beliau dalam karya sastranya mengungkapkan tradisi Kalimantan. Contoh karyanya yaitu: Upacara (Novel 1978), putih! putih/putih! (1975), Sawan (Puisi 1978), Api Awan Asap (Novel, 1976), lingkaran kabut, perawan dan Danau liaq(2002).
5.      Remi Silado
Remi Silado banyak menciptakan mbeling atau puisi lugu. Puisi  ini mengungkapkan hidup sosial kota-kota besar yang sering menampilkan sikap yang skeptis, pesimis, anarkhis dan individualis. Puisi mbling adalah puisi yang secara blak-blakan, lugu tanpa menghiraukan diksi tradisional. Contoh karya yaitu: Gali Lobang Gila Lobang (Roman) dan Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan (Sajak).

6.      Kuntowijoyo
Kuntowijaya lahir pada tanggal 8 September 1943 di Yogyakarta. Beliau merupakan Dr. Sastra yang berprofesi sebagai dosen U     niversitas Gajah Mada, pengarang dan sejarawan. Contoh karya yaitu: Suluk awang-uwung (Sajak 1975), pasar (Novel, 1972), Kotbah di atas Bukit (1976), Isaraf (1976), Keta api yang Berangkat Pagi hari (1966), Impian Amerika (1997), dan Daun Makrifat (Cerpen).
7.      Budi Darma
Budi darma merupakan Dr. Sastra yang pernah menjadi rektor IKIP di Surabaya. Beliau adalah sorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Contoh karyanya yaitu: Rafilus, Olenka (Novel, 1983), Orang-orang Bloomington (Antologi cerpen 1980), dan Kritikus Adinan (Cerpen, 1974).
8.      Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji penyair kelahiran Rengat (Riau) tanggal 24 Juni 1941, dari suku bangsa Melayu. Pendidikan SD sampai SMA ditamatkan di Tanjung Pinang (Kepri) dan selanjutnya melanjutkan ke jurusan Administrasi Negara Fakultas Sosial Politik Universitas Pajajaran Bandung, sampai tingkat II  (Program Doktoral/lama). Oleh karena tingginya minat dan intensitasnya kepada sastra, khususnya puisi, ia berhenti kuliah. Beliau mengarang puisi, cerpen, esei dan kritik sastra. Dia termasuk salah satu pembaca puisi terbaik indonesia sampai saat ini dan telah membacakan puisinya di Rotterdam International Poetry Reading (Belanda) tahun 1975. Pada tanggal 26 Januari 1976, Sutardji mengumumkan dirinya secara lisan dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki menjadi Presiden Penyair I            ndonesia. Karya sastra beliau berangkat dari tradisi mantera (Melayu). Contoh karyanya yaitu: “O” (Sajak-sajak 1973), Amuk (1977), Hujan Menulis Ayam (2001), O Amuk Kapak (1981), Kredo puisi, Jadi, Batu, Shanghai, Pot, Idul Fitri dan  Winka Sihka.
9.      Ibrahim Sattah
Ibrahim lahir di Tarempa pada tahun 1945. Beliau menamatkan SMA dan bekerja menjadi Polisi Militer, Pendiri Bumi Pustaka dan dramawan. Beliau selain mengambil efek puitik mantera, juga mengambil permainan kanak-kanak, lagu-lagu dan cerita rakyat Melayu Riau sebagai sumber pengucapan puitiknya. Mantera itu bukan lagi mantera tradisional untuk menyihir dan orang sakit, melainkan mantera modern yang menyarankan yang baru dengan cara tersendiri. Beliau wafat tanggal 17 Januari 1987. Contoh karyanya yaitu: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), Hai Ti (1981), Duka dan Wawa.
10.  Abdul Hadi Widi Muthari
Abdul Hadi lahir di Sumenep tahun 1945. Beliau adalah seorang Dr. Sastra di Universitas Sains Malaysia (1999). Beliau seorang lirikus dengan kedalaman sikap religiusnya yang intens selalu tercermin pada banyaknya puisinya. Beliau berpendapat aku dan alam tidak lain adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu diakrabi untuk melahirkan tindakan-tindakan kreatif. Melihat dan merasakan suasana lirik yang kental dalam puisi Abdul Hadi, W.M. Latunan pesona puisi Abdul Hadi W.M lain pula dengan getaran yang bergelora pada puisi-puisi Sutardji. Kalau Sutardji tampak liar dan gelisah dalam menggapai Tuhan, maka Abdul Hadi W.M, terasa memencarkan pesona langit. Contoh karyanya yaitu: Riwayat (1967), Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang seorang Pengunjung Pantai sanur (kumpulan sajak 1967-1971), Cermin ( sajak 1972-1975), Meditasi ( sajak 1971-1975) dan Tergantung Pada Angin ( kumpulan sajak, 1975-1976).
11.  Arifin C.Noer
Arifin adalah seorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Arifin merupakan sastrawan yang menciptakan karya sastra dari kehidupan manusia. Contoh karya yaitu: Beberapa puisi dalam Horison (1966-1967), Sepasang Pengantin (Drama, 1968), Kapai-kapai (Sandiwara, 1970) dan Kasir Kita (1972).
12.  Danarto
Danarto  lahir pada tanggal 27 Juni 1940 di Sragen. Dalam karyanya beliau kembali ke akar tradisi atau kembali ke sumber  ialah suasana purbawi ke dalam puisi-puisi tanpa kehilangan kemodeman. Beliau berurusan dengan kata-kata dan bagaimana menuangkan pengalaman batin dan rasa untuk menemukan darah sekaligus daging dalam puisi. Beliau menggunakann tokoh-tokoh yang abiotik dan hewan dapat berbicara dan perilaku seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: godlob (Cerpen, 1974), Adam Makrifat (Cerpen, 1982), Berhala (Cerpen, 1987), Argagendon, Rintrik dan  Kecubung Pengasihan.

13.  Darmanto Jatman

Darmanto lahir di Jakarta pada tahun 1942. Beliau terkenal dengan puisi-puisinya yang terdiri  dari campur baur berbagai macam bahasa yang dipadukan dengan kata seru yang menghentak dan lembut menggambarkan kesemrawutan kebahasaan masyarakat modern, ia lebih mbling dari Remi Silado. Ia lebih memiliki kesungguhan mengugat, mencemooh, menyelesaikan sesuatu. Contoh karyanya yaitu: Bngsat (1974), Sang Darmanto (Sajak).

14.  Ediruslan Pe Amariza
Ediruslan lahir pada tanggal 17 Agustus 1947 di Bagan siapi-api. Beliau adalah seorang pengarang, Ketua Dewan Kesenian Pekanbaru, dosen, wartawan dan anggota DPRD Riau. Beliau meninggal bulan Mei 2000 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu: Vagaban, Pekanbaru (Puisi, 1975), Surat-suratku kepada GN (Puisi 1983), Bukit Kawan (Antologi puisi, 1985), Di Bawah Mentari (Novel, 1981), Jakarta, Dimanakah sri (1982), Taman (Novel, 1983), Jembatan/ kekasih Sampai Jauh, Nakhoda (Novel), Ke Langit (1993), Panggil Aku Sakai (Novel, 1987), Kayah, Umi Kalsum (Drama), Renungkan Markasan (Cerpen, 1997) dan Dikalahkan Sang Sapurba (Novel, 1999).

15.  Eko Budianta, C.A
Eko budianta merupakan sastrawan yang melakukan suatu perubahan dalam karya sastranya. Beliau adalah seorang yang selalu membedakan karya sastranya dengan sastrawan zaman dahulu.  Contoh karya yaitu: Ada (buku puisi, 1976), Bel, 28 puisi (1977), Real (Puisi, 1977)  dan Puisi ASEAN (1978).

16.  Emha Ainun Najib
Emha Ainun Najib adalah penyair religius yang sezaman dengan Sutardji. Ia sangat peka terhadap permasalahan sosial. Ia berpendapat bahwa puisi akan mampu merangsang untuk menguak berbagai jalan ke cakrawala. Ia bisa menerima yang kontemplatif tetapi yang aktif. Hal itu dimasukkannya puisi boleh ke luar rumah tetapi tetap membawa nurani bilik sunyinya, seperti juga puisi kamar yang sunyi dapat menangkap alam dan udara di luar jendela. Bagi Emha, puisi itu semacam barang mainan ia tidak begitu sering akan tetapi ia menjadi penting dan utama bila mampu menawarkan suatu dunia  dalam. Dunia dalam ini adalah sekaligus dari luar yang tidak terbatas.  Contoh karyanya yaitu: Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 Untuk Tuhanku (1978), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990) dan Nocturno.




17.  Rachmad Djoko Pradopo
Rachmad merupakan pakar bahasa Indonesia dan penyair puisi Indonesia. Rachmad membuat ciri-ciri puisi kontemporer Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Matahari Pagi di Tanah Air (puisi,1967), Sajak-sajak (1975) dan Matahari Di tengah Hutan (1994).
18.  Sapardi Djoko Damono
Sapardi sebagai penyair imajis karena susunan kata didalam puisinya mampu menghadirkan suasana yang sarat dengan citra lihatan,M.S. Di dalam puisi Sapardi ini susunan katanya mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia melukiskan yang terdiri dari citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati namun menjadi hidup setelah diberi nyawa oleh Sapardi. Jika kita pernah membaca fabel dengan binatang tiang listrik, hujan, kabut bisa berbicara seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: Akuarium (Sajak, 1974), Mata Pisau (sajak, 1974), Dukamu A(sajak, 1975), Lirik Parsi Klasik (1977), Arloji (Antologi puisi, 1999) dan Pus Puisi Cat Air untuk Rizki.
19.  Umar kayam
Umar Kayam lahir tanggal 30 April 1932 di Ngawi. Beliau adalah seorang Dr.Sastra, dosen Universitas Gajah Mada dan pengarang. Beliau wafat bulan Desember 2002 di Jakarta.
Contoh karyanya yaitu: Seribu Kunang-kunang di manhattan (Cerpen 1972), Sri Su Marah dan Bawak (1975 ), Para Priyayi (Novel 1995), Jalan Menikung (2000), Istriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa.
20.  Taufik Ikram Jamil
Taufik Ikram Jamil lahir pada tanggal 19 September 1963 di Teluk Belitung. Beliau adalah seorang sarjana FKIP UNRI, wartawan dan pengusaha. Beliau juga banyak membuat karya sastra khususnya cerpen. Contoh karyanya yaitu: Tersebab Haku Melayu (puisi, 1995), Sandiwara Hang Tuah (cerpen, 1996), Membaca Hang Jebat (1998), Hempasan gelombang (1999).
21.  Yudhistira ANM Massardi
Yudhistira ANM Massardi lebih mbeling lagi dari Remi Silado dsan Darmanto Jatman. H.B. Jassin berpendapat bahwa puisi-puisinya memberikan kesan yang dibuat oleh anak-anak yang tak berdosa lagi. Contoh karyanya yaitu: Arjuna Mencari Cinta (1977), Ding Dong (1978), Sajak  Sikat Gigi (1978), Biarin, Sajak Dolanan Anak-anak.
22.  Darman Moenir
Darman Moenir lahir pada tanggal 27 Juli 1952 di Batusangkar. Beliau seorang Sarjana Bahasa Inggris UBH Padang. Contoh karyanya yaitu: Bako (1980), Kenapa Hari Panas Sekali (puisi,1973), Gumam (1976), Kabut, Batu, Kampung Kecil (Cerita Bersambung di SK Haluan).
23.  Idrus Tintin
Idrus Tintin lahir pada tanggal 10 Oktober 1932 di Rengat. Beliau tamatan SMA, Buruh, pengarang, wartawan, guru, Ketua Dewan Kesenian Riau. Contoh karyanya yaitu: Luput (1986), Burung Waktu (1990), Nyanyian di Lautan Tarian di tengah Hutan (1996).
24.  Hasan Junus
Hasan Junus lahir pada tahun 1942 di P. Penyengat. Beliau  tamatan ABA Bandung, Guru, kolumnis dan pengarang. Contoh karyanya yaitu: Burung Tiung Srigading (1978), Pelangi Pagi dan Sejumlah Cerita Lain (Cerpen, 1999).
25.  Aspar
Aspar (Andi Sopyan Paturisi) lahir pada tanggal 19 April 1943 di Bulukumba. Beliau meruapakan sastrawan kontemporer yang bergelut dalam karya sastra novel. Contoh karyanya yaitu: Arus (Novel, 1976), Pulau (Novel, 1976), Sajak-sajak dari Makassar.
26.  F. Rahardi
F. Rahardi dengan kumpulan puisinya menampilkan kenakalan-kenakalan dengan humor-humor yang tinggi dan kadang-kadang konyol tetapi segar. Beliau merupakan sastrawan kontemporer yang banyak membuat karya sastra marginal.  Beliau adalah sastrawan yang pertama memciptakan karya sastra marginal di Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Silsilah Garong.
27.  Afrizal Malna
Afrizal sejak 1983 puisi-puisinya diperhatikan karena imaji simboliknya yang memukau. Ia juga memerhatikan pemilihan kata yang kadang-kadang menggebu-gebu. Puisi-puisi beliau di dalam kumpulan Abad yang Berlari, kebanyakan tidak berdasarkan otak, tetapi berdasarkan roh kata-kata yang liar dan berdarah. Contoh karyanya yaitu: Gelora Burung
28.  Y.B Mangunwijaya
Mangunwijaya banyak mengarang novel-novel sejarah. Beliau telah menghayati akar-akar tradisi jawa. Beliau berasal dari suku Jawa. Karya sastra yang ditulis beliau mengacu pada naskah kuno atau melalui penelitian-penelitian dan mempunyai muatan sejarah yang kuat. Contoh karyanya yaitu: Ikan-ikan Hiyu, Idohoma (1983), Roro Mendut (1981), Genduk Duku (1986), Setadewa dan Lusi Lindri (1987).
29.  N.H. Dini
N.H. Dini dalam karya sastranya memiliki nilai yang universal dan tema yang dikemukakan adalah problem manusia pada umumnya. Beliau adalah sastrawan yang berwawasan budaya internasional yang mempelajari berbagai macam problem kehidupan sosial dalam masyarakat dunia. Karya sastra beliau banyak yang berbentuk novel kontemporer Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Sri.
30.  Pramudya Ananta Toer
Pramudya Ananta toer  adalah seorang sastrawan yang dalam karya sastranya mengangkat tema tentang kehidupan manusia sehari-hari. Beliau adalah seorang novelis sastra kontemporer. Contoh karyanya yaitu: Bumi Manusia (1980).
31.  Ngarto Februana
Ngarto Februana seorang sastrawan kontemporer yang menggeluti karya sastra khususnya novel Indonesia kontemporer. Beliau merupakan sastrawan yang karya sastra banyak berbentuk novel. Contoh karyanya yaitu: Menolak untuk Pulang (2000).
32.  Sides Sudyarto
Sides Sudyarto yaitu seorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan dan belum dikenal masyarakat umum. Contoh karyanya yaitu: Gerisa.


33.  Jeihan
Jeihan adalah seorang sastrawan yang menggunakan simbol-simbol dengan menampilkan atau kalimat seruan yang sedikit. Contoh karyanya yaitu: Viva Pancasila.
2.3 Karya-karya Sastrawan Kontemporer             
2.3.1 Puisi Kontemporer
Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri
Mantera
Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi dalam rupa dupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi kau!
Kasihku
Analisis:
            Puisi mantera merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau kembali keakar tradisi masyarakat Melayu Riau. Kata-kata dalam puisi mantera seperti kata-kata yang diucapkan oleh dukun atau pawang. Puisi ini bernuansa mistik atau ghaib.

Shanghai
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Tak ya pong tak ya ping
Tak ya ping tak ya pong
Ku tak punya ping
Ku tak punya pong
Pinggir ping ku mau pong
Tak tak bilang ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarak Mu menancap nyaring
Analisis:
             Puisi Shanghai adalah puisi yang sangat memperhatikan unsur bunyi dan bewrbentuk puisi mantera.  Dalam puisi Shanghai terdapat pembaharuan yaitu kata-kata yang biasanya terdapat di dalam mantera. Sutardji melakukan inprovisasi dalam penciptaan puisi-puisinya. Puisi ini ditujukan kepada Sang Pencipta alam semesta.
Batu
Batu mawar
Batu langit
Batu duka
Batu rindu
Batu jarum
Batu bisu
Kaukah itu
Teka
Teki
Yang
Tak menepati janji?
Dalam seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh? Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.
Kau tahu?
Batu risau
Batu pukau
Batu-Kau-ku
Batu sepi
Batu ngilu
Batu bisu
Kaukah itu
                       Teka
Teki
Yang
Tak menetapi
                     Janji?
Analisis:
Puisi batu merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau puisi ynag kembali kewarisan budaya mistik zaman dahulu. Puisi batu merupakan puisi yang melambangkan seseorang yang memiliki sifat keras kepala yang dilambangkan dalam puisi ini dengan kata batu.


Walau
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah
Dulu pernah kuminta Tuhan
Dalam diri
Sekarang tak
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak
Tujuhb puncak membilang-bilang
Nyeri hari mengucap-ucap
Di butir pasir kutulis rindu-rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah

Analisis:
Puisi walau terlihat nilai religius yang tinggi. Puisi ini menjelaskan bahwa manusia tidak ada apa-apanya dihadapan Allah Swt. Kemampuan manusia ada batasnya tetapi kemampuan Allah tidak tertandingi oleh apapun di muka bumi. Oleh karena itu, manusia tidak boleh bersifat sombong, angkuh, dan sebagainya, karena manusia hanya makhluk ciptaan Allah Swt.
Tanah Airmata
Tanah airmata tumpah dukaku
Mata air airmata kami
Airmata tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanah-Mu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedung-Mu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemana pun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemana pun kalian terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemana pun berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami.
Analisis:
Puisi Tanah Airmata merupakan puisi tentang kritik sosial. Puisi ini menjelaskan bahwa kesedihan rakyat terhadap tanah air yang tercinta. Dalam puisi ini rakyat tidak bisa berbuat apa-apa di tanah airnya sendiri, karena tanah air yang mereka tinggali tidak seperti dulu lagi. Dahulu tanah air mereka subur, aman, dan damai, sekarang sangat memprihatinkan.
Dandandid
Maka adalah pasir
Maka adalah batu
Adalah bayang
Dan ini dan itu Engkau dan aku: DANDANDID
Di sana pasir di sini pasir si sana batu di sini batu
Di sana bayang di sini baying di sana air di sini air
Maka adalah lengang
Terkapung dalam beragam makna di mana aku ada
Dan sebagaimana biasa aku pun bisa
Sesuatu
Yang tak kutahu
            Indandid indekendekid indekandekuman
            Indaddid
Kaukah itu
Yang membasuh kaki yang membasuh bumi
Yang tak ada yang hilang tak hilang
Jauh tak jarak dekat tak sentuh
Di pasir di batu di baying di air di sunyi di situ di sana
Di sini
Kuraba halamu
Kusapa jua dirimu
Kanakkanah dan kupu-kupu
Yang di kakimu itu DANDANDID
Indekandekid indekandekudeman indandid
Karya : Ibrahim Sattah
Analisis:
Puisi Dandandid merupakan puisi yang berbentuk matera. Didalam puisi ini bertolak dari pengalaman kanak-kanaknya dengan lagu malam anak serta dogeng ke dalam puisi-puisinya. Puisi ini berusaha melakukan pembaharuan dengan kata-kata yang digunakan dalam puisi ini terlihat bahwa penyair ingin  mengabungkan nilai matera dengan puisi yang menceritakan lagu anak-anak.
Pus Puisi Cat Air Untuk Rizki
            Angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel
            Telepon itu,” aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”
            Kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut
            Daun itu dengan jari-jarinya gemas,” jangan berisik menganggu
            Hujan!”
Hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya,” lepaskan daun itu.
Karya: Sapardi Djoko Damono
Analisis:
Puisi ini sastrawan melakukan eksperimen sederhana, melainkan di balik kesederhanaannya itu ada sesuatu yang mencuit tiba-tiba bisa membedakan Sapardi dengan penyair lainnya. Dalam puisi ini susunan katanya mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia melukiskan yang terdiri dari citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati namun menjadi hidup setelah diberi nyawa oleh sapardi. Dalam puisi ini terlihat bahwa angin, kabel telepon, hujan kabut seolah berbicara seperti manusia.
Gerisa
Ya maraja jaramaya
Ya marani niramaya
Ya silapa palasiya
Ya mirado rodaminya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya
Karya: Sides Sudyarto
Analisis:
Puisi ini sastrawan melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikan dan belum dikenal masyarakat umum. Kata-kata dalam puisi ini sulit dipahami karena kata-katanya inkonvensional sehingga harus benar-benar dipahami agar bisa mengerti maksud dalam puisi ini.
V!
!VIVA PANCASILA!
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
                                    V!
                ! VIVA PANCASILA !
Karya: Jeihan
Analisis:
Puisi ini mengunakan simbol-simbol dengan menampilkan atau kalimat seruan yang sedikit. Puisi ini sangat sulit diartikan dan dipahami karena puisi hanyan terdiri dari simbol-simbol. Sastrawan kontemporer melakukan perubahan dalam karya sastra khususnya puisi terlihat dalam puisi ini pembaca sangat sulit dimengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar